Ketika apa yang kita inginkan tidak kita dapatkan. Ketika suasana yang
kita harapkan luput dari kenyataan, maka akan ada perasaan yang sangat kuat
mendera hati kita. Tiba-tiba apa yang kita lihat menjadi sesuatu yang salah.
Tiba-tiba ada sesuatu yang ingin kita lampiaskan. Itulah perasaan kecewa dan
marah.
Marah adalah salah satu bentuk emosi. Ya salah satu. Artinya
masih ada bentuk-bentuk emosi yang lain. Yang bisa berkonotasi positif maupun
berkonotasi negatif. Contoh emosi positif adalah bahagia, senang, puas atau
sejenisnya. Sedangkan emosi negatif ya seperti marah itu. Yang lain misalnya
kecewa, takut, cemas dan lain sebagainya. Emosi itu muncul sebagai respon dari
diri kita saat menghadapi situasi yang spesifik.
Emosi positif membuat kita merasa bahagia, bangga dan merasa berharga.
Kita cenderung ingin berada pada suasana tersebut. Kalau bisa sih gak usah
berpindah ke suasana yang lain. Maka emosi positif sering tidak dianggap
sebagai masalah. Beda halnya dengan emosi negatif. Emosi negatif ini akan
menimbulkan perasaan tidak nyaman yang sedapat mungkin kita hindari. Pendek
kata, kalau boleh memilih jauh-jauh deh dari situasi yang menumbuhkan emosi
negatif itu.
Akan tetapi…. kalau direnung-renungkan kita lebih sering
menghadapi situasi yang bikin munculnya emosi negatif ketimbang menghadapi
situasi yang memunculkan emosi positif. Dan bila emosi negatif itu muncul, wah
semua jadi kacau. Bawaannya uring-uringan terus. Pengen berteriak. Pengen
menendang. Pengen melempar atau pengen apa saja yang semuanya untuk
melampiaskan emosi negatif itu. Targetnya sih sudah pasti, pengen emosi negatif
itu pergi jauuuuh dan gak usah kembali.
Berharap tidak menghadapi situasi sulit, kelihatannya nggak mungkin.
Maka yang penting untuk dilakukan adalah memilih cara melampiaskan emosi
negatif itu bila suatu ketika ia muncul. Apa itu penting. Oh …. penting banget.
Karena salah memilih cara melampiaskan emosi bisa menjerumuskan kita pada
masalah yang lebih parah. Ibarat kata, pengen keluar dari kubangan
lumpur tapi malah terperosok kedalamnya.
Karena emosi itu muncul dari pikiran kita, maka untuk melampiaskannya
kita harus bersahabat dengan pikiran kita saat emosi negatif itu muncul.
Caranya?
Pertama, pikirkan bahwa kita bukan satu-satunya orang yang menghadapi
situasi sulit itu. Teman kita buuuuanyak. Bahkan yang dialami orang lain bisa
jadi lebih berat dari yang kita alami. Kita tidak sendirian. Jadi mengapa harus
marah?
Kedua, pikirkan bahwa kesulitan itu tidak membuat kita mati. Meski kita
menghadapi masalah atau kesulitan, kita toh masih tetap bugar, bisa merasakan hangatnya
sinar matahari, bisa mencium harum udara basah saat pagi hari tiba dan lain
sebagainya. Hidup masih akan terus berlanjut teman.
Ketiga, berhentilah memikirkan apa yang membuat kita marah. Semua itu
tidak akan menguntungkan kita. Semakin kita memikirkannya akan semakin membuat
kemarahan kita memuncak dan kita akan semakin tidak nyaman.
Keempat, tahanlah untuk tidak terlalu banyak bicara. Saat kita didera
emosi negatif, kita sering kehilangan control diri. Kita tidak menyadari apa
yang kita katakan. Kata-kata kasar sering keluar tanpa kita sadari. Bila itu
terjadi, orang lain yang berinteraksi dengan kita akan merasa tersakiti,
padahal mereka tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi pada kita. Kalau
mereka memahami keadaan kita sih gak masalah. Kalau tidak? Muncullah bencana
besar. Kita akan menghadapi masalah baru yang seharusnya tidak perlu terjadi.
Gak percaya? Coba aja






0 komentar:
Posting Komentar